Studi Ungkap Risiko Penurunan Kecerdasan Pasien COVID-19

 

Risiko Penurunan Kecerdasan

Gejala long covid berbeda-beda pada setiap orang. Kebanyakan kejadiannya meliputi sakit kepala, batuk, kelelahan, ataupun hilangnya indra penciuman dan pengecapan.

Selain gejala umum tersebut, dikabarkan pula adanya risiko penurunan kecerdasan. Benarkah efek samping COVID-19 dapat membuat daya ingat dan kecerdasan menurun?

Risiko Memori dan Kecerdasan Menurun Akibat COVID-19

Keluhannya termasuk kelelahan dan masalah kognitif, tak terkecuali brain fog atau kabut otak.

Menurut dr. Devia Irine Putri, memang sudah banyak peneliti yang mengatakan COVID-19 dapat memengaruhi cara kerja otak pasien setelah sembuh.

“Salah satu gejala long covid yaitu munculnya brain fog atau perkabutan otak, yang bisa menyebabkan keluhan pada pasien COVID-19 seperti sulit berkonsentrasi dan menurunnya daya ingat,” ucap dr. Devia.

Melansir WebMD, para peneliti di Inggris menganalisis data dari 81.337 orang yang mengikuti Great British Intelligence Test pada tahun 2020.

Sekitar 13.000 orang melaporkan telah tertular COVID-19. Sejumlah 275 orang di antaranya menyelesaikan tes sebelum dan setelah infeksi.

Mereka yang sebelumnya terinfeksi virus corona merasa lebih susah mengerjakan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemecahan masalah, penalaran, dan perencanaan tata ruang.

Dari hasil tes tersebut, peneliti menilai buruknya penurunan fungsi kognitif tampaknya berhubungan dengan seberapa parah infeksi terjadi.

Para peneliti mengatakan subjek yang telah menggunakan ventilator saat sakit menunjukkan efek terbesar. Rata-rata, skor IQ partisipan turun 7 poin.

Seluruh partisipan survei mengisi kuesioner di awal dan 8 bulan kemudian. Kuesioner berisi gangguan memori dan masalah kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan.

Sementara, subjek yang negatif hanya 4 persen yang mengalami masalah memori. Sebanyak 12 persen melaporkan memiliki masalah konsentrasi.

Masalah Memori dapat Berujung pada Penyakit Alzheimer

Kehilangan penciuman juga memprediksi tingkat keparahan perubahan otak dan penurunan kognitif. Kondisi ini dapat menyebabkan penyakit Alzheimer.

Hubungan tersebut kemungkinan berkaitan dengan bagian otak yang disebut olfactory bulb. Fungsinya yaitu memproses aroma. Olfactory bulb juga mengirimkan sinyal ke bagian lain dari otak yang berperan dalam emosi, memori, dan pembelajaran.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan masalah ini merupakan titik awal virus corona memengaruhi otak. Itulah sebabnya penderita biasanya kehilangan indra penciuman.

Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan apakah pasien virus corona berisiko lebih tinggi untuk mengembangkan penyakit Alzheimer di masa depan atau tidak. Itu dia temuan mengenai efek COVID-19 pada otak.

Sehatmania.com merupakan situs berita yang mengulas tentang berita kesehatan, kecantikan, olahraga, gaya hidup di Indonesia.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *